Monocrystalline

 

Memasang solar panel di rumah atau di kantor merupakan cara terbaik untuk mengurangi tagihan listrik hingga saat ini dan ramah lingkungan. Kini masyarkat semakin tertarik untuk menerapkan gaya hidup hijau dengan cara mengurangi jejak ekologis sebesar mungkin. Apalagi lagi letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, yang dapat menerima sinar matahari yang konstan. Namun ada baiknya sebelum memasangnya di rumah atau di kantor ada baiknya mengenal dahulu beragam jenis solar panel yang ada di dunia. Sebut saja salah satunya Monocrystalline. Solar panel ini berwarna hitam pekat dan tersusun rapi antar bloknya.  Sehingga dikenal sebagai sel-sel kristal tunggal.  Sel-sel ini terbuat dari ingot silikon silinder dengan kemurnian tinggi. Pembuatan monocrystalline membutuhkan proses yang jauh lebih rumit, proses ini terdiri dari memutar kristal biji silikon padat sampai halus sambil perlahan mengekstraknya dari kolam silikon cair sehingga menciptakan blok silikon murni yang terbuat dari hanya satu kristal (sesuai dengan namanya Monocrystalline). Blok atau ingot tersebut kemudian dipotong menjadi persegi seperti wafer dan dirangkai menjadi pola panel surya monocrystalline yang sangat khas. Sel-sel ini juga memilik warna yang seragam.

 

Jika berencana memasang solar panel jenis Monocrystalline, mari kita lihat apa yang menjadi keunggulan dan kekurangan dari Monocrytalline.

Keunggulan Monocrystalline:

  1. Tingkat efisiensi lebih tinggi 15-20% dari polycrystalline sehingga membutuhkan ruang lebih sedikit. Panel ini dapat menghasilkan lebih banyak listrik untuk area yang sama dengan panel yang terbuat dari bahan lain.
  2. Sel surya monocrystalline dikenal paling awet, pabrikan yang menjual akan memberikan garansi 25 tahun
  3. Performanya lebih baik dari poly pada saat cuaca mendung, membuat sel jenis ini ideal untuk daerah yang sering dilanda hujan
  4. Panel monocrystalline sangat direkomendasikan untuk aplikasi surya dalam skala yang lebih besar.

  

Kekurangan Monocrystalline:

  1. Selama proses pembuatannya, banyak limbah terbuang ketika sel silikon dipotong-potong.
  2. Monocrystalline merupakan sel surya paling mahal di pasaran, jadi tidak dalam kisaran harga semua orang.
  3. Tingkat kinerja cenderung menurun saat peningkatan suhu ekstrem seperti musin hujan.